Pemprov DKI Diminta Tinjau Ulang Wacana Menaikan Tarif Pajak

Tax Consultant Jakarta – Farouk Abdullah Alwyni selaku dari Chairman Center for Islamic Studies in Finance, Economics and Development meminta pemerintah provinsi DKI untuk mempertimbangkan lagi rencana melakukan keinaikan sejumlah pajak. Mengapa demikian? Karena rencana tersebut tidak terlepas pada target pemerintah provinsi DKI yang menginginkan pendapatan pajak meningkat dari Rp. 36,125 trilin menjadi senilai Rp. 38,125 triliun di tahun ini.

“Pemprov seharusnya mempertimbangkan kembali apa saja dampak jangka menengah serta jangka panjang terutama bagi masyarakat. Sebab semenjak tahun 2014 lalu, Jakarta mengalami kenaikan tarif Pajak Bumi Bangunan yang terjadi secara signifikan” ungkap Farouk.

Farouk melihat kenaikan yang terjadi berdampak negative pada daya beli masyarakat DKI dikarenakan alokasi dana yang harus dikeluarkan mereka terus mengalami peningkatan sedemikian rupa. Menurut beliau, pihak yang akan sangat dirugikan dalam hal ini tidak lain adalah masyarkat kelas menenganh. Semakin hari orang akan semakin tua dan penghasilan pun mulai menurun, jadi ketika PBB makin mahal maka akan makin mencekik.

Di satu sisi Farouk turut mengapresiasi kebijakan yang dikeluarkan oleh Gubernur Anies Baswedan yang telah mencabut pemberian potongan maupun diskon PBB kurang lebih sebesar 50 persen untuk lapangan golf.

Diskon besar yang diberikan untuk lapangan golf merupakan tindakan yang tidak proporsional mengingat beberapa pihak yang ikut menikmati permainan mahal tersebut merupakan mereka yang berduit atau kelas atas. Sedangkan di sisi lainnya sangat sulit sekali untuk anggota masyarakat biasa memperoleh potongan PBB hingga bisa mencapai 50%.

Pajak Parkir Gedung

Bila sebelumnya, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia disingkat APPBI mengakui jika mereka keberatan atas wacana Pemerintah DKI Jakarta untuk menaikan tarif pajak parkir gedung yang awalnya 20% naik menjadi 30%.

Ketua umum dari APPBI yakni Handaka Santosa mengungkapkan jika keberatan itu dikarenakan kondisi industry ritel sekarang ini sedang tidak bagus atau berada dalam kondisi terpuruk. “Dengan tarik pajak parkir yang meningkat, kondisi ritel akan makin parah”jelasnya.

Handakan pun menyampaikan jika sekarang ini jumlah kunjungan masyarakat ke gedung pusat perbelanjaan makin hari makin menurun sehingga apabila wacana tarif parkir benar-benar dilaksanakan tidak menutup kemungkinan jika jumlah pengunjung makin anjlok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *